Monday, February 14, 2011

Mahasiswa, Sukses, dan Nasionalisme.

26 Januari 2011, adalah hari dimana kali pertama saya menghadiri seminar dengan status baru saya; Mahasiswi.
Berangkat bersama Scholarship team dari kampus Trisakti School of Management, Grogol menuju Gedung Manggala Wanabakti yang berada tak jauh dari kawasan gedung MPR/DPR bukanlah perjalanan yang jauh. Dekat juga tidak.
Turun dari bus dengan menggunakan jas almamater, menuju ruang seminar, disambut lantunan melodi angklung teman kami, STPT (Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti), memberi kesan tersendiri bagi saya. Hangat. Dan, keren! :)

"Kebhinekaan" menjadi tema seminar yang diadakan dalam rangka memperingati HUT ke-45 Yayasan Trisakti ini.



Dihadiri oleh
- Wakil Kementerian Pendidikan Nasional Bapak Prof. Dr. Fasri Jalal
- Tokoh Budayawan Bapak Gunawan Muhammad
- Tokoh Masyarakat Ibu Prof Dr. Melanie Budhianta dan Bapak Yudi Latief MA. Phd
-Tokoh pemerintah, Peneliti LIPI dan para undangan berbagai perguruan tinggi Trisakti, akademis, Lembaga Sosial Masyarakat (LSM)
- Para mahasiswa dan para alumni dari Perguruan Tinggi Trisakti
- Ketua Pengurus Yayasan Trisakti Bapak Julius Yudha Halim, serta sebagai moderator Bapak Harry Tjan.
Kami semua berkumpul membicarakan dan membedah strategi para akademisi, birokrasi, praktisi dan para pakar bersama berbincang membuka dan menjembatani pluralism dengan cara mengenali keterbatasan, tantangan serta peluang bagi Indonesia.

Sungguh menjadi kesempatan langka bagi saya bisa bertemu tokoh-tokoh luar biasa seperti beliau-beliau. Yang tadinya hanya bisa menatap kagum pada artikel-artikel mereka di media masa, tapi sekarang saya berkesempatan untuk berdialog dengan para pendekar Indonesia ini.

Firstly, saya merasakan kebhinekaan telah lahir dari kepala Trisakti itu sendiri. bagaimana tidak? Tongkat kepemimpinan Yayasan Trisakti ini saja dipimpin oleh seorang luar biasa yang jika Anda perhatikan, sangatlah unik. Bapak Harry Tjan Silalahi dengan wajah China, bermargakan marga Batak dan berbicara layaknya anggota keraton Yogyakarta. awesome!!!

Kedua, saya terkagum-kagum dengan tutur kata yang amat teratur yang dilontarkan oleh Ibu Prof. Dr. Melanie Budiantha. Beliau menuturkan sebuah realita unik yang beliau temukan di Madura. Sebuah pulau di utara pulau Jawa itu menyimpan sebuah kenyataan pahit.
Lemme tell you what Ms. Melanie had told ya? :)

Jadi di Madura sana, ada sebuah daerah bernama Pamekasan. Daerah ini , di kenal sebagai kampung tki . Rumah - rumah mewah disana , berdiri kokoh di bangun oleh warga yang sukses menjadi TKI . Namun sayang , rumah megah ini , banyak yang kosong di tinggal pergi sang pemilik rumah . Dari total 7300 warga, 10 persen warganya merantau menjadi TKI di negeri Jiran Malaysia . Ironisnya , jalur yang mereka tempuh menjadi TKI rata-rata ilegal. Kepala desa setempat yang seringkali memberikan sosialisasi keselamatan kerja melalui jalur resmi , justru tidak di gubris . Pasalnya , kebanyakan dari mereka mengaku di persulit oleh pihak pemerintah . Selain itu , jika melalui jalur resmi , biaya yang di keluarkan sangat mahal , serta tidak cepat sampai pada tujuan. Sebab, prosesnya dianggap jelimet.

Permasalahan yang Prof. Melanie tekankan bukanlah persoalan TKI ilegal. Tapi pada anak-anak umur sekolah dasar yang notabene adalah anak-anak yg ditinggal ber TKI oleh orang tuanya. Sebuah pemandangan yang cukup ganjil melihat kebun-kebun dan lapangan yang sepi dari rendah riuh anak-anak. Kemana mereka?
PENYEWAAN PLAYSTATION.
Tidak ada lagi dari mereka yang bermain di karapan, tidak ada lagi dari mereka yang bermain enggrang, tidak ada lagi dari mereka yang bermain galah, tidak ada lagi dari mereka yang bermain ampar-ampar pisang, tidak ada lagi dari mereka yang bernyanyi injit-injit semut. Mereka justru lebih mengenal apa itu GTA, CounterStrike, TMNT (Teenage Mutan Ninja Turtles), dan masih banyak games PlayStation lainnya.
Bagi sebagian khalayak, hal ini mungkin termasuk daftar hal-hal yang dapat diabaikan. Tapi tidak dengan beliau. Hal ini merupakan masalah kritis,paparnya.
Nasib bangsa ini kelak ada di tangan mereka. Tindak tinduk merekalah yang menentukan terlaksananya cita-cita bangsa atau tidak, suksesnya MDGs (Millennium Development Goals) apa tidak, masih Garuda kah lambang negara kita. Those are in the palm of their hands.
Kemirisan belum berhenti disitu, terdapat banyak rumah-rumah berspanduk:

"MAU DAPAT UANG BANYAK? MAU BISA BANGUN RUMAH MEWAH? MAU BISA PUNYA MOBIL? MAU BISA KELILING DUNIA? JADILAH TKI DENGAN DAFTAR DISINI"

It such a weird view. I never find a poster like that in Jakarta, exceedingly, or the other cities that i ever visit.
Well, coba mari kita pikir, permasalahan-permasalahan di atas apa lantas tidak memberikan efek apapun? salah besar. Anak-anak Madura ini sudah tidak peduli dengan kebuadayaannya. Mereka lebih bangga dengan celana pensil dan Ragnarok nya. Keadaan diperparah ketika mereka sudah tak menghiraukan lagi pendidikan. Ada yang berhenti sekolah dengan beranggapan, "Kan mau jadi TKI"

Hingga suatu saat, tebentuklah sebuah tempat dimana para pendidik di supply kesana dan memiliki tugas untuk mengajak anak-anak untuk belajar 'kembali' mencintai Maduranya. Sebuah tempat layaknya gedung sekolah sederhana yang dibangun dengan ruang-ruang khusus seperti lahan untuk belajar bertani, berkebun, hingga ruangan bermain untuk mereka dapat belajar kembali lagu-lagu permainan daerah.
Lalu, apa sudah tuntas permasalannya?

Jika kita kaji, bukan Indonesia namanya jika satu masalah tidak berujung masalah lain. Menyenangkan tentunya, berarti rakyat Indonesia terlatih untuk mencari solusi?! Back..
Masalah lain muncul sebagai suatu sinergi yang amat berlawanan. Stasiun televisi yang kemudian meliput menjadi umpan bagi para pengusaha untuk membuka tempat-tempat penginapan bagi turis yang berkunjung.
Mungkin anda akan bertanya, "BUKANKAH BAIK, MENAMBAH DEVISA NEGARA TOH?"


Inilah yang menjadi dasar pertanyaan saya ketika diberi kesempatan oleh Bpk. Harry Tjan untuk ber-entertain di muka para peserta diskusi.

"Seperti yang telah dituturkan Prof.Melanie tadi, saya jadi ingat tentang Provinsi Belitung yang tingkat pengunjungnya melonjak naik secara drastis ketika novel Tetralogi Laskar Pelangi sukses dipasaran. Belum lagi dengan garapan film yang meraih banyak penghargaan. Sungguh luar biasa, banyak sekali pihak yang merasa diuntungkan. Seperti yang diliput oleh beberapa media massa, seorang bapak yang tadinya hanya penggali timah serabutan bisa menjajakan jualan minumannya bagi pengunjung yang bertandang ke lokasi syuting film Laskar Pelangi. Perubahan juga amat terasa kental di lapisan pemerintah, khususnya pada pendapatan daerah yang kian merangkak naik.
Saya, memposisikan diri sebagai mahasiswa di bagian perekonomian, Akuntansi, merasakan adanya angin segar dalam merealisasikan ilmu-ilmu management yang dosen berikan,. Bagaimana tidak, dengan bekerja sama dengan teman-teman dari STPT, STMT dan sekolah tinggi lainnya, tentu meningkatkan pendapatan negara hingga berubahnya status negara kita dari negara berkembang menjadi negara maju, bukanlah impian belaka. Toh, ini baru Belitung, sedangkan negara ini terlalu kaya dengan keindahan-keindahan yang jauh lebih indah dari Belitung. Tapi pertanyaannya, masih bisakah mahasiswa-mahasiswa
seperti kami ini, tetap menjunjung tinggi rasa nasionalisme dan kecintaan kami pada Bumi Pertiwi dengan melihat kembali efek-efek negatif yang amat terasa bagi para calon penerus bangsa (anak-anak Indonesia)??
Sedangkan, seperti yang Ir. Soekarno katakan bahwa: Mahasiswa-mahasiwi Indonesia tidaklah sama dengan para pemuda-pemudi Inggris, Amerika, dan negara barat lainnya yang menghabiskan masa muda mereka hanya dengan bersenang-senang dan bermain. Mahasiswa-mahasiswi Indonesia dituntut untuk berjuang keras di tengah-tengah kehidupan yang serba sulit. Contoh sederhana yang saya rasakan adalah mengantri TransJakarta. Rasa lelah dan penat ketika masuk ke antrian yang nyaris sepanjang 1km, harus saya patahkan dan saya buang jauh-jauh mengingat keharusan saya untuk berada di ruang kuliah, untuk mendapat siraman ilmu dari para dosen. Itu belum termasuk dengan rasa menjadi seperti ikan asin ketika giliran masuk ke dalamnya. Miris. Tapi terkadang menyenangkan, rasa senang itu muncul ketika syukur meluap saat mengetahui, hidup dengan perjuangan, adalah jauuuuuuuh lebih indah daripada menjadi 'anak supir'.
Back..inti pertanyaan yang saya ajukan pada Prof. Melanie adalah, bagaimana menyatukan kedua sinergi yang saling berlawanan ini, agar tercipta situasi balance antara sukses dan tetap tergenggamnya nasionalisme di tangan 'para sukses' tersebut. Karena yang saya rasakan saat ini, banyak mahasiwa-mahasiswi menjadi seorang Scatter-Brained dalam hal ini.

Then, she answered my question with smile. She told that she was happy to know me, as a student college, have a hard thinking about this case.
She start answer my question with give her experience.
Beliau bercerita tentang lingkungan rumahnya yang amatlah rukun dan saling menghormati, dari pemilik rumah yang satu dengan pemilik rumah lainnya. Terasa kental ketika hari raya-hari raya besar mendekat. Keharmonisan terjalin dengan baik di setiap event-event keagamaan. Baik ketika Natal, Idul Fitri, Imlek, Galungan, dan hari raya lainnya. Namun keadaan menjadi berbeda ketika MUI mengeluarkan peraturan bai para Muslim untuk tidak mengucapkan dan memberi selamat pada umat Kristiani yang merayakan Natal. Haram sebutnya. Tetangga beliau yang juga Muslim ternyata mengukiti peraturan MUI tersebut, berbagi kue disaat Natal tidak lagi mereka lakukan. Lalu apa kerukunan diantara mereka seketika itu bubar? Happy to say NO! tetangga Muslim Prof. Melanie memang tidak berkunjung ke rumah beliau ketika hari Natal (beliau adalah seoran Kristen), tapi mereka datang berkunjung ketika Tahun Baru tiba.
(Sebagian orang akn bingung mengapa jawaban beliau sepeti ini)
Tapi dengan jawaban yang beliau berikan, mahasiswi seperti saya ini ternyata baru saja diberi kesempatan untuk berfikir tidak hanya dari satu sisi dominan. Ada kalanya kita lihat sisi resesif, sisi yang lebih sedikit punya wewenang, tapi punya dampak yang jauh lebih besar dari si dominan. Berfikir dingin, berjiwa tenang, dan berhati-hati berjalan, adalah hal yang harus mahasiswa dan mahasiswi Indonesia miliki. Mari cari solusi bukan dengan 'melawan' dan bukan dengan mencaci. Gunakanlah kesempatan yang kita miliki, yaitu menjadi seorang mahasiswa dan mahasiswi, dengan sebaik mungkin. Tetap junjung tinggi rasa bangga akan Indonesia. Mau protes? tidak harus berdemo, gunakanlah media yang ada, punya bakat menulis, tulislah opinimu sebaik mungkin. Bakat akademik? buatlah Indonesia bangga memilikimu. Ingat, Negara kita ini terlalu kaya. Namun tak semua 'terlalu' itu adalah kaya. Tugas kita saat ini adalah menguak keteraluan itu, membawanya ke permukaan bumi, dengan tetap Garuda dihati.
Herlind.

0 comments:

Post a Comment